Kamis, 15 Desember 2016

Antara Takdir dan Tuhan

antara takdir dan tuhan

Antara Takdir dan Tuhan


... وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ فَقَدَّرَهُ تقْدِيْراً..
... dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS. Al-Furqan 25:2)

 Sering kita melihat banyak manusia yang selalu mempermasalahkan takdirnya masing-masing, bahkan kita sendiri ikut ambil bagian untuk mem-perbincangkannya dengan khalayak ramai. Padahal perdebetan yang begitu runcing tersebut tak pernah berujung pangkal. Dari banyaknya manusia yang membicarakan hal ini (takdir), hanya sedikit dari mereka yang mampu memahaminya, bahkan tak sedikit juga dari mereka yang merasa kesulitan dalam memahami masalah yang pelik ini, sehingga yang terjadi hanya ke-bingung-an tersendiri bagi mereka. Karena, jangankan manusia awam, para ilmuan dan tokoh filosof-pun terkadang juga marasa kebingungan memahami tentang hal takdir ini.

Meskipun demikian, sebagai manusia bukan berarti harus mengingkari realita takdir yang ada. Memang Allah Swt, menyinggung tentang hal ini (takdir) di dalam Alquran, seperti yang terdapat pada surah an-Nisa’ ayat 136, bahwa unsur keimanan (rukun iman) itu memiliki lima unsur, akan tetapi terkait (takdir) ini, Allah Swt tidak menyebutkan secara langsung yang berupa teks agar orang-orang yang beriman tersebut harus mengimani takdir ini. Sebagaimana firmannya :
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’ 4: 136)

Ayat di atas, jelas memberikan pemahaman bagi umat Islam, bahwa Allah Swt, pada ayat tersebut tidak mengatakan terkait (takdir) ini sebagai pondasi iman. Kendatipun demikian, kita harus merujuk kepada hadits Nabi Muhammad Saw, ketika seseorang yang berpakaian rapi serba putih yang dalam hal ini diyakini sebagai Malaikat Jibril a.s datang menjumpai Rasul, lalu beliau (Jibril a.s) menanyakan tentang iman kepada Nabi, lantas Nabi menjawabnya : “bahwa engkau harus beriman kepada Allah Swt, kepada Malaikat-malikatnya, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, lalu beriman kepada hari kemudian (kiamat), dan engkau juga harus beriman kepada takdir (baik dan buruk)”.

Terkait hal ini (takdir), beberapa ahli tafsir maupun tokoh filosof, juga para cendikiawan, ustad dan para kiyai sekalipun, kebanyakan dari  mereka memahami takdir ini dari segi tinjauan Alquran yang mempunyai arti “ukuran, ketetapan, ketentuan (kadar), batas”. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang penafsiran maknanya. Sehingga yang timbul dikalangan masyarakat umum adalah perpecahan pendapat atas penerimaan takdir yang ditimpakan Allah Swt, kepada manusia itu sendiri.

Mengenai pengertian dari takdir itu sendiri, seperti pendapat beberapa ahli di atas, dapat kita kutip firman-firman Allah dalam Alquran al-karim, yang mengartikan Takdir (Qadr) itu adalah ukuran, sebagai berikut: dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.(QS. Al-Hijr 15:21)

Selanjutnya, pengertian Takdir (Qadr) itu adalah ketetapan, firman Allah Swt:  dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. (QS. Yaasin 36:38)
 

Dan juga firman Allah Swt yang mengatakan bahwa Takdir (Qadr) itu sebagai ketentuan, yaitu:
... Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Thalaq 65:3

Arti yang terakhir dari takdir (Qadr) adalah batasan yang terdapat pada firman Allah Swt, yaitu : dan Allah menetapkan batasan malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu,(QS. Al-Muzzammil 73: 20)

Semua ayat-ayat di atas, telah memberikan pemahaman yang detail bagi manusia terkhusus bagi umat Islam sendiri. Banyak sekali ayat Alquran yang mengulang-ulang dan membahas hakikat takdir ini. Akan tetapi, dari sekian ayat di atas, seyogiyanya harus direnungkan dan dicermati bahwa Allah Swt, Tuhan semesta alam memberikan takdir ini dengan ketentuan-ketentuan maupun kadar-kadar atas keterbatasan makhluknya.

Lihat saja, alangkah kuasanya Allah Swt yang telah memberikan ketetapannya kepada segala sesuatu dari yang terbesar hingga yang terkecil. Baik makhluk yang di langit juga dengan makhluk yang melata di persada bumi ini. Pohon kelapa yang tinggi saja berlaku ketetapan (takdir) Tuhan. Rerumputan hijau yang berada di hutan belantara juga terdapat takdir dari Tuhan. Contoh kecilnya saja, bagaimana ia bisa tumbuh?, lalu ia subur menghasilkan warna yang indah bila dipandang dari kejauhan, lalu bagaimana juga ia bisa mengering? dan bagaimana kadar kekeringannya? Itulah takdir atau bisa disebut dengan sunnatullah yang menurut para ahli rasionalis sebagai hukum-hukum (Tuhan yang berlaku) di bumi ini.
Akan tetapi perlu diingat, bahwa hukum-hukum Tuhan yang berlaku tersebut memiliki keberagaman bentuk dan sifat yang bermacam-macam. Seperti halnya dengan manusia yang memiliki takdir sesuai dengan takaran atau ukuran yang ditetapkan dan diberikan Allah atasnya.

Makhluk ini (manusia) tidak bisa terbang bagaikan capung ataupun burung. Tidak bisa hidup di dasar lautan persis dengan kehidupan makhluk yang dilaut contohnya ikan. Dan juga tidak memiliki habitat di langit, itu karena memang takdirnya sudah ditentukan hidup di permukaan bumi, sehingga apa pun yang dikerjakannya adalah merupakan ketetapan yang tidak bisa terlepas dari lingkungan takdir itu sendiri. Itulah yang dimaksudkan penulis, bahwa ukuran atau takdir setiap makhluk itu sudah ditentukan oleh-Nya.

Mengingat takdir yang ditetapkan Allah tersebut memiliki ragam bentuk dan jenis yang banyak, namun kita (manusia) diberikan oleh-Nya  kemampuan untuk memilah dan memilih akan takdir tersebut. Tidak seperti matahari, bulan dan juga bintang yang telah ditetapkan selalu berputar pada porosnya masing-masing. Akan tetapi makhluk yang sebagus-bagus ciptaan ini berbeda dengan makhluk lainnya.

Manusia dapat memilih takdir (ukuran-ukuran, batasan) mana yang harus ditempuh dan dijalankannya. Sebagian contoh kecilnya adalah kisah Amiril mukminin, saidina Umar ibnu al-Khattab r.a. Beliau akan melakukan kunjungan ke satu daerah Umat Islam. Namun, karena sang amiril mukminin mendapat kabar, bahwa di daerah tersebut sedang terserang wabah penyakit akhirnya beliau membatalkan rencana keberangkatannya untuk kunjungan tersebut.

Karena pembatalan kunjungan beliau tersebut, para sahabat lainnya bertanya kepada saidina Umar ibnu al-Khattab, “apakah anda menghindar dari takdir Tuhan ya Amiril Mukminin?” Lalu Umar ibnu al-Khattab menjawab, “Saya menghindar dari takdir yang satu ke takdir yang lain”.

Berjangkitnya satu penyakit akibat yang ditimbulkan wabah tersebut merupakan takdir dari Tuhan. Amiril Mukminin menghindar serangan wabah tersebut juga merupakan takdir dari Tuhan. Jika seandainya beliau jadi melakukan kunjungan tersebut, berarti juga sudah ditakdirkan diserang wabah yang menyebabkan beliau dihinggapi satu penyakit.

Adalah benar pendapat yang mengatakan bahwa setiap makhluk tidak dapat melepaskan diri dari perkara takdir. Namun hemat penulis, bahwa nikmat dan bencana yang Allah Swt berikan merupakan takdir yang seharusnya kita berlaku adil atas kedua tersebut (nikmat dan musibah). Dari semua itu, nampak dengan jelas bahwa ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, Tuhan semesta alam.

Jika demikian, dapat disimpulkan bahwa takdir itu ada yang baik dan juga ada yang buruk. Tetapi sadarilah, bahwa manusia diberi takdir untuk memilih bukan hanya diberi takdir untuk menjalani saja. Pada akhirnya, jangan hanya ketika sedang musibah ataupun petaka terjadi, baru mengucapkan bahwa “itu adalah takdir”. Tetapi, seharusnya juga ketika dalam kebahagian, atau dalam kesuksesan mesti mengucapkan hal yang sama.

Ingat, segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup. Allah Swt, tidak akan menimpakan satu musibah atau petaka kepada setiap makhluk-Nya di luar kemampuan makhluk tersebut menerimanya. Hanya saja setiap makhluk akan terdapat perbedaan atas musibah yang menimpanya. Antara individu manusia saja kelihatan sisi perbedaan tersebut apalagi dengan makhluk yang di langit dan di bumi lainnya. Wallahu ‘alam...

Senin, 12 Desember 2016

Hijrah menuju Ridha-Nya

hijrah menuju ridha-Nya

Hijrah Menuju Ridha-Nya




Puji Syukur hanya kepunyaan Ilahi Rabbi, baginya kerajaan di langit dan di bumi, Dia-lah yang maha penuntun, sekaligus maha pengatur atas segala hal. Inilah yang dijanjikan Allah Swt, inilah yang di atur dalam penuntunannya. Dimulai dari kekosongan dan kebingungan atas perjalanan yang akan dilaksanakan, berjuta harapan untuk mendapatkan kebaikan dimasa akan datang, berjuang dengan langkah yang penuh kesadaran.

Sejarah telah dimulai, kisah telah dijalankan, kaki sudah dilangkahkan, awal hijrah kini telah ditunaikan. 1 November 2016 diiringi dengan ayunan tangan, niat bulat ditekadkan untuk melaksanakan perjuangan meraih kecintaan Allah Swt, di negeri orang, kampung nun jauh dari tatapan seorang ibu yang tersayang. Berangkat dengan satu cita-cita yang penuh dengan cinta, dipadu dengan semangat untuk mengawali sebuah karier dan meraih sejuta harapan dan impian yang pernah diukir dalam sebuah catatan pada masa kecil silam.

Pengharapan tiada pernah habis, untaian kata yang bernadakan lembut menjadi sebuah ingatan yang telah dituturkan bunda tercinta. Aliran air mata yang menjadi pengantar sebuah cita-cita yang mulia, dicampuri dengan kesedihan hati, rasa iba-pun menyertai, ditambah satu kecupan yang lama dengan hati yang penuh keikhlasan, hati seorang ibu merelakan, dan merestui langkah anaknya dalam memenuhi panggilan untuk berhijrah.

Nasehat-nasehat bunda disampaikan, terkadang dengan nada yang tersendat-sendat, dicampuri dengan tarikan nafas yang panjang, pelukan yang hangat, dibumbui dengan tatapan yang sendu, dan diringgi dengan suara yang sedikit berbisik, seraya berkata:
“u pabuat ma ho amang manjalaki hangoluan mu”
(Aku menuntun keberangkatan mu Anak-ku, demi mencari kehidupanmu)
“marangkat ma ho amang dohot ridho ni Tuhan mu”
(Berangkatlah Wahai Anak ku dengan Ridha Tuhan mu)
“Jago kasehatan amang, jalaki ma cita-cita dohot angan-angan mu”
(Jagalah Anak ku kesehatan mu, raihlah cita-cita dan impian mu)
“Na utamona ulang tadingkon amang sumbayang mu”
(yang terpenting anak-ku, Jangan pernah meninggalkan Shalat mu)
“Pador ma amang mangalehen barita mu”
(Sering-seringlah anak ku mengasih kabar berita mu)
“Anso ate-ate ni inang mon inda marsak mamikirkon mu”[1]
(Agar hati Ibumu ini tidak terlalu merindukan mu)

Mengingat hal itu semua, membuat jiwa teringat dengan satu hal yang dipesankan/disampaikan oleh seorang Ustad/Buya kepada penulis sejak masih mengenyam pendidikan di Pesantren Ma’had Darul Hadits[2], yaitu Ustad Ali Asro Nasution, beliau berkata : Anak ku... jika engkau berani melangkahkan kakimu satu jengkal demi meraih cinta-Nya Allah, Maka berbahagialah dirimu. Sebab, Allah akan menyambutmu dengan kasih sayang-Nya yang tidak ada bandingannya dengan dunia sekalipun dan isinya.

Inilah yang menyebabkan keyakinan hati semakin tumbuh dan berakar untuk mengejar dan melaksanakan cita-cita. Sama seperti halnya orang yang sedang berproses menuju kebaikan yang besar, bisa dikatakan bahwa keburukan, kemungkaran, kebathilan sebelumnya sudah banyak dilakukan oleh anggota jasmani. Untuk itulah, hati ini berkata dengan bisikan yang penuh makna, “jika pikiran kita baik dan selalu posotif, maka produk yang dikeluarkan juga akan menuju kebaikan pula. Sebaliknya, jika pikiran kita buruk dan selalu negatif, maka produk yang hasilkannya juga akan menuju kepada keburukan pula”.

Ada orang yang selalu melihat segala sesuatu itu dari sisi negatif, ada orang yang berhijrah malah dikatakan pencitraan, ada orang yang berusaha menuju kesuksesan justru dikatakan sok sibuk, ada orang yang suka mengingatkan sesama pada kebaikan tetapi malah dikatakan sok suci.

Penulis selalu heran kepada orang yang mempunyai pikiran semacam itu. Justru kalau memang demikian, bisa dikatakan bahwa jika setiap kelakuan orang yang ada di sekitarnya dianggap salah, bisa jadi ada yang salah dengan isi kepala orang tersebut. Kenapa tidak?

Tidak mungkin seseorang bisa mendapatkan kehidupan yang positif jika yang besangkutan memiliki pemikiran yang negatif. Bayangkan saja, bagaimana bisa seseorang sukses kalau disetiap kali ia “gagal” malah Suudzan terhadap Tuhannya? Dari ucapan dia mengatakan bahwa Tuhan tidak adil. Sampai dia berkata bahwa hidupnya sudah sia-sia. Padahal telah Allah jelaskan dalam kalam mulia, Alquran al-Karim, yaitu:
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) (Qs. Al-Qiyamah,75:36)
           
Tidak ada sesuatu yang diciptakan di muka bumi ini karena kesia-sia-an, yang paling jorok adalah sejenis kotoran manusia. Tapi, apakah kita pernah mengira bahwa kotoran tersebut tercipta hanya dengan sia-sia? Padahal kotoran itu adalah sisa-sisa makanan yang ada dalam tubuh kita. Jika seandainya tidak ada kotoran tersebut, maka sakitlah kita.
Adakah kita pernah menyadari untuk berhenti agar tidak selalu berpikiran semacam pendapat bodoh seperti di atas? Adakah kita memikirkan untuk menjadi yang lebih baik? Adakah kita pernah menyimak kembali sejarah kehidupan para sahabat Rasul? Mereka (para sahabat) selalu mengisi waktu (baik siang maupun malamnya) dengan Alquran. Mereka berlomba-lomba meraih kasih sayang Allah Swt, sampai hati mereka terpatri dengan penuh kecintaan terhadap firman-firmanya (Alquran al-Karim).

Sementara bagaimana dengan kita? Mulai terbit mentari memancarkan cahayanya dipagi hari hingga dapat siangnya, kita hanya disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang bermacam-macam, lalu sampai pada malamnya berlalu dengan begitu saja. Siang dan malam terlewatkan tanpa disertai dengan lantunan ayat-ayat Alquran kalam mulia. Kita terjaga dimalam hari yang tiada nilainya sama sekali. Malam pun berlalu dengan canda tawa, perdebatan sengit yang tidak bermanfaat, yang ada lupa kepada sang pencipta. Siang malam yang tidak membawa nilai manfaat baik untuk kehidupan di dunia begitu juga untuk kehidupan di akhirat kelak.

Dari lembaran inilah, penulis memberikan pesan ataupun mengajak segenab pembaca budiman untuk mengalihkan pemahaman serta pemikiran agar sejenak dan sedikit waktu mulai satu menit, tiga puluh menit bahkan berjam-jam untuk menyadari atas tindakan, kelalaian dan kecerobohan maupun kebodohan yang telah dilalui beberapa waktu yang silam. Kita sadar dan mulailah mengalami penyesalan yang dalam, bahwa kita telah jauh dari kasih sayang Allah Swt. Siang dilumuri noda-noda hitam di hati. Malam-malam kita berlalu dengan cucuran dosa (besar maupun kecil) yang setiap kalinya dilaporkan Malaikat kepada Allah sang pengatur. Malam yang tanpa lantunan ayat Alquran, malam pergi tanpa tangisan dikala bersimpuh sujud menghadap Allah Swt.  Ketahuilah, bahwa dua raka’at di sepertiga malam jauh lebih bermanfaat dan bermakna dari pada langit dan bumi sekaligus isi keduanya.

 Malam yang penuh dengan linangan air mata, getaran qalbu  dikarenakan komunikasi langsung dengan Dzat yang maha agung. Kalimat-kalimat mulia diucapkan untuk memuja dan memuji keagungan-Nya, hingga air mata bercucuran lalu lisan berkata dan bermunajat agar kiranya noda dan dosa-dosa yang telah dilakukan dapat diampuni sang maha pengampun.

Cucuran air mata yang terasa asin, tercicipi oleh mulut yang sering melakukan dan menebar kemaksiatan, dosa mengatai orang, dosa memitnah orang, dosa mengumbar janji-janji palsu. Pada akhirnya mulut bertanya dan berkata kepada gelapnya malam, apakah di tengah kegelapan terdapat rahasia yang penuh dengan berbagai peristiwa? Lalu malam-pun menyahut dan menjawab dengan suara lembut, “aku tidak pernah bertemu dengan suatu peristiwa, sebagaimana peristiwa yang di alami para pencari cinta-Nya di keheningan malam”. Alangkah indahnya hidup ini bila selalu mendapatkan ampunan dari Dzat yang maha pengampun.

Jika demikian, bila kita terus melakukan hal yang sia-sia, maka kita akan terus mendapat kerugian. Terbuangnya waktu secara sia-sia, sama halnya dengan membuang umur kita dengan sia-sia pula. Tetapi Allah Swt, itu Dzat yang maha pemurah, masih ada peluang dan jalan untuk menghindari kerugian, jalan masih terbuka dengan lebar untuk menghilangkan kerugian, dengan cara kembali kepada jalan menujunya, seperti firman Allah Swt:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
(Qs. Al-Ashr, 103:1-3)

            Firman Allah Swt di atas, sudah sangat jelas, bahwa orang yang terhindar dari kerugian di dunia menuju akhirat kelak ada empat golongan, yaitu:

1.      Orang yang beriman
Beriman bukanlah sekedar berucap di bibir saja. Banyak sekali tanda-tanda orang yang beriman, salah satunya adalah orang yang hidupnya selalu mengikuti petunjuk dari Alquran (QS. Al-baqarah 2:2-3), kehidupannya senantiasa merasa diawasi Allah Swt. Langkahnya selalu di iringi dengan sifat keadilan (QS. An-Nisa’ 4: 135). Dan melaksanakan semua kewajiban dan ketaatan penuh kepada-Nya yang disertai dengan ketulusan.

2.      Mengerjakan amal saleh
Amal dalam konteks ini adalah kalimat umum. Tetapi Allah membatasinya dengan kalimat “saleh”. Amal saleh itu mencakup amalan dzahir yang dikerjakan oleh anggota badan maupun amalan batin, baik amalan tersebut bersifat fardhu (wajib) maupun amalan yang bersifat mustahab (anjuran). Itu berarti, dalam pelaksanaan amal saleh tersebut haruslah dilakukan dengan nilai keikhlasan (ketulusan hati) dan menghindari perbuatan yang mengharapkan pujian orang lain. Menghindari s ifat riya’ dan juga sifat sum’ah (memberitahukan kebaikan yang dilakukan kepada orang lain).
Nabi Muhammad Saw menjelaskan tentang hal demikian di atas, sebagaiman sabda beliau:
مَنْ رَاءَى رَاءَى اللَّهُ وَمَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ
Barang siapa yang ingin dilihat (kebaikannya) maka Allah Swt akan memperlihatkannya, dan barang siapa ingin didengar (kebaikannya), maka Allah Swt akan memperdengarkannya.
(HR. Bukhari Muslim)

Untuk itu, dengan kerendahan hati, kesadaran hati, penulis mengajak kita semua, agar sama-sama untuk melakukan segala perbuatan (amal) dengan disertai ketulusan hati dan mengharapkan ridha Allah Swt semata.

3.      Nasehat menasehati dalam kebaikan
Dalam agama Islam, mengajak dan saling nasehat menasehati menuju kepada kebaikan itu adalah hal yang sangat disunnahkan Rasul. Nasehat merupakan perkara yang agung, dan juga merupakan jalan yang sering dilaksanakan oleh para Rasul terdahulu ketika memperingati umatnya, sebagaimana Nabi Nuh a.s, memberikan peringatan kepada kaumnya yang telah berada dalam kesesatan, seperti yang terdapat dalam Alquran yaitu :
"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu”...
(QS. Al-A’raaf 7:62)

dan juga Nabi Hud a.s yang berkata kepada kaumnya, yaitu :
Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu"
(QS. Al-A’raaf 7:68)
                        Oleh sebab itu, Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi yang mulia dan yang tercinta, menyatakan dalam hadits الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ “Agama Itu adalah nasehat”. Namun pokusnya adalah memberi nasehat kepada kebaikan yang menuntun seseorang dikala lupa melanda hidupnya, mengajaknya kepada kedamaian pada saat emosi menguasainya, memberikan cahaya baginya pada saat dia dalam gelap gulita.

4.      Nasehat menasehati dalam kesabaran
Tidaklah cukup saling menasehati untuk kebenaran tanpa berpesan ataupun manasehati dalam perkara kesabaran. Sebab, hidup ini bukanlah jalan yang datar. Sering kali kaki terantuk duri, mata kemasukan debu, perut dalam kelaparan dan lain sebagainya. Kesusahan kadang-kadang sama banyaknya dengan kemudahan, cobaan silih berganti menerpa arusnya perjalanan hidup. Tentu banyak manusia yang akan rugi karena tidak tahan menempuh kesukaran dan halangan hidup. Rugi sebab mundur, rugi sebab tidak berani maju, berhenti ditengah perjalanan. Padahal berhenti-pun artinya sama dengan mundur, sedang umur terus berlanjut dan jatah hidup semakin berkurang.

Alquran, kalam Allah, telah menerangkan bahwa kesabaran hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang memiliki sifat-sifat baik lagi kuat jiwanya, sebagaimana firman Allah Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar” (QS. Fushshilat 41:35). Itu berarti manusia yang memiliki jiwa lemah dan tidak memiliki sifat-sifat yang baik lainnya akan mendapat kerugian.


Ibnu al-Qayyim, di dalam kitabnya “Miftahud Daris Sa’adah” menerangkan bahwa “kalau ke empat martabat tersebut di atas telah dicapai oleh manusia, maka hasilnya akan  menuju kepada kesempurnaan hidup” dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keselamatan hidup tidak terlepas dari ke empat martabat tersebut, namun keselamatan itu bukanlah untuk diri sendiri saja, melainkan disuruh juga untuk menyampaikannya pada sesama, menyeru kepada agama, beriman kepada Dzat yang maha menghidupkan, mengajak kepada berbuat amalan saleh, menasehati dalam kebenaran, serta menasehati agar teguh hati dalam kesebaran.

Semoga bermanfaat. 

















[1] Bahasa Mandailing
[2] Nama salah satu Pesantren di Desa Huta Baringin, Kecamatan Siabu Kab. Mandailing Natal Prov. Sumatera Utara Indonesia, Kode Pos 22976

Kewajiban Menutup Aurat Dan Batasannya

Kewajiban Menutup Aurat Dan Batasannya السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بِسْمِ اللهِ الرَحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الحَمْدُ لِ...