Antara Takdir dan Tuhan
... وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ فَقَدَّرَهُ تقْدِيْراً..... dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS. Al-Furqan 25:2)
Sering kita melihat banyak manusia yang selalu mempermasalahkan takdirnya masing-masing, bahkan kita sendiri ikut ambil bagian untuk mem-perbincangkannya dengan khalayak ramai. Padahal perdebetan yang begitu runcing tersebut tak pernah berujung pangkal. Dari banyaknya manusia yang membicarakan hal ini (takdir), hanya sedikit dari mereka yang mampu memahaminya, bahkan tak sedikit juga dari mereka yang merasa kesulitan dalam memahami masalah yang pelik ini, sehingga yang terjadi hanya ke-bingung-an tersendiri bagi mereka. Karena, jangankan manusia awam, para ilmuan dan tokoh filosof-pun terkadang juga marasa kebingungan memahami tentang hal takdir ini.
Meskipun demikian, sebagai manusia bukan berarti harus mengingkari realita takdir yang ada. Memang Allah Swt, menyinggung tentang hal ini (takdir) di dalam Alquran, seperti yang terdapat pada surah an-Nisa’ ayat 136, bahwa unsur keimanan (rukun iman) itu memiliki lima unsur, akan tetapi terkait (takdir) ini, Allah Swt tidak menyebutkan secara langsung yang berupa teks agar orang-orang yang beriman tersebut harus mengimani takdir ini. Sebagaimana firmannya :
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’ 4: 136)
Ayat di atas, jelas memberikan pemahaman bagi umat Islam, bahwa Allah Swt, pada ayat tersebut tidak mengatakan terkait (takdir) ini sebagai pondasi iman. Kendatipun demikian, kita harus merujuk kepada hadits Nabi Muhammad Saw, ketika seseorang yang berpakaian rapi serba putih yang dalam hal ini diyakini sebagai Malaikat Jibril a.s datang menjumpai Rasul, lalu beliau (Jibril a.s) menanyakan tentang iman kepada Nabi, lantas Nabi menjawabnya : “bahwa engkau harus beriman kepada Allah Swt, kepada Malaikat-malikatnya, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, lalu beriman kepada hari kemudian (kiamat), dan engkau juga harus beriman kepada takdir (baik dan buruk)”.
Terkait hal ini (takdir), beberapa ahli tafsir maupun tokoh filosof, juga para cendikiawan, ustad dan para kiyai sekalipun, kebanyakan dari mereka memahami takdir ini dari segi tinjauan Alquran yang mempunyai arti “ukuran, ketetapan, ketentuan (kadar), batas”. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang penafsiran maknanya. Sehingga yang timbul dikalangan masyarakat umum adalah perpecahan pendapat atas penerimaan takdir yang ditimpakan Allah Swt, kepada manusia itu sendiri.
Mengenai pengertian dari takdir itu sendiri, seperti pendapat beberapa ahli di atas, dapat kita kutip firman-firman Allah dalam Alquran al-karim, yang mengartikan Takdir (Qadr) itu adalah ukuran, sebagai berikut: dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.(QS. Al-Hijr 15:21)
Selanjutnya, pengertian Takdir (Qadr) itu adalah ketetapan, firman Allah Swt: dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. (QS. Yaasin 36:38)
Dan juga firman Allah Swt yang mengatakan bahwa Takdir (Qadr) itu sebagai ketentuan, yaitu:
... Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Thalaq 65:3
Arti yang terakhir dari takdir (Qadr) adalah batasan yang terdapat pada firman Allah Swt, yaitu : dan Allah menetapkan batasan malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu,(QS. Al-Muzzammil 73: 20)
Semua ayat-ayat di atas, telah memberikan pemahaman yang detail bagi manusia terkhusus bagi umat Islam sendiri. Banyak sekali ayat Alquran yang mengulang-ulang dan membahas hakikat takdir ini. Akan tetapi, dari sekian ayat di atas, seyogiyanya harus direnungkan dan dicermati bahwa Allah Swt, Tuhan semesta alam memberikan takdir ini dengan ketentuan-ketentuan maupun kadar-kadar atas keterbatasan makhluknya.
Lihat saja, alangkah kuasanya Allah Swt yang telah memberikan ketetapannya kepada segala sesuatu dari yang terbesar hingga yang terkecil. Baik makhluk yang di langit juga dengan makhluk yang melata di persada bumi ini. Pohon kelapa yang tinggi saja berlaku ketetapan (takdir) Tuhan. Rerumputan hijau yang berada di hutan belantara juga terdapat takdir dari Tuhan. Contoh kecilnya saja, bagaimana ia bisa tumbuh?, lalu ia subur menghasilkan warna yang indah bila dipandang dari kejauhan, lalu bagaimana juga ia bisa mengering? dan bagaimana kadar kekeringannya? Itulah takdir atau bisa disebut dengan sunnatullah yang menurut para ahli rasionalis sebagai hukum-hukum (Tuhan yang berlaku) di bumi ini.
Akan tetapi perlu diingat, bahwa hukum-hukum Tuhan yang berlaku tersebut memiliki keberagaman bentuk dan sifat yang bermacam-macam. Seperti halnya dengan manusia yang memiliki takdir sesuai dengan takaran atau ukuran yang ditetapkan dan diberikan Allah atasnya.
Makhluk ini (manusia) tidak bisa terbang bagaikan capung ataupun burung. Tidak bisa hidup di dasar lautan persis dengan kehidupan makhluk yang dilaut contohnya ikan. Dan juga tidak memiliki habitat di langit, itu karena memang takdirnya sudah ditentukan hidup di permukaan bumi, sehingga apa pun yang dikerjakannya adalah merupakan ketetapan yang tidak bisa terlepas dari lingkungan takdir itu sendiri. Itulah yang dimaksudkan penulis, bahwa ukuran atau takdir setiap makhluk itu sudah ditentukan oleh-Nya.
Mengingat takdir yang ditetapkan Allah tersebut memiliki ragam bentuk dan jenis yang banyak, namun kita (manusia) diberikan oleh-Nya kemampuan untuk memilah dan memilih akan takdir tersebut. Tidak seperti matahari, bulan dan juga bintang yang telah ditetapkan selalu berputar pada porosnya masing-masing. Akan tetapi makhluk yang sebagus-bagus ciptaan ini berbeda dengan makhluk lainnya.
Manusia dapat memilih takdir (ukuran-ukuran, batasan) mana yang harus ditempuh dan dijalankannya. Sebagian contoh kecilnya adalah kisah Amiril mukminin, saidina Umar ibnu al-Khattab r.a. Beliau akan melakukan kunjungan ke satu daerah Umat Islam. Namun, karena sang amiril mukminin mendapat kabar, bahwa di daerah tersebut sedang terserang wabah penyakit akhirnya beliau membatalkan rencana keberangkatannya untuk kunjungan tersebut.
Karena pembatalan kunjungan beliau tersebut, para sahabat lainnya bertanya kepada saidina Umar ibnu al-Khattab, “apakah anda menghindar dari takdir Tuhan ya Amiril Mukminin?” Lalu Umar ibnu al-Khattab menjawab, “Saya menghindar dari takdir yang satu ke takdir yang lain”.
Berjangkitnya satu penyakit akibat yang ditimbulkan wabah tersebut merupakan takdir dari Tuhan. Amiril Mukminin menghindar serangan wabah tersebut juga merupakan takdir dari Tuhan. Jika seandainya beliau jadi melakukan kunjungan tersebut, berarti juga sudah ditakdirkan diserang wabah yang menyebabkan beliau dihinggapi satu penyakit.
Adalah benar pendapat yang mengatakan bahwa setiap makhluk tidak dapat melepaskan diri dari perkara takdir. Namun hemat penulis, bahwa nikmat dan bencana yang Allah Swt berikan merupakan takdir yang seharusnya kita berlaku adil atas kedua tersebut (nikmat dan musibah). Dari semua itu, nampak dengan jelas bahwa ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, Tuhan semesta alam.
Jika demikian, dapat disimpulkan bahwa takdir itu ada yang baik dan juga ada yang buruk. Tetapi sadarilah, bahwa manusia diberi takdir untuk memilih bukan hanya diberi takdir untuk menjalani saja. Pada akhirnya, jangan hanya ketika sedang musibah ataupun petaka terjadi, baru mengucapkan bahwa “itu adalah takdir”. Tetapi, seharusnya juga ketika dalam kebahagian, atau dalam kesuksesan mesti mengucapkan hal yang sama.
Ingat, segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup. Allah Swt, tidak akan menimpakan satu musibah atau petaka kepada setiap makhluk-Nya di luar kemampuan makhluk tersebut menerimanya. Hanya saja setiap makhluk akan terdapat perbedaan atas musibah yang menimpanya. Antara individu manusia saja kelihatan sisi perbedaan tersebut apalagi dengan makhluk yang di langit dan di bumi lainnya. Wallahu ‘alam...
Meskipun demikian, sebagai manusia bukan berarti harus mengingkari realita takdir yang ada. Memang Allah Swt, menyinggung tentang hal ini (takdir) di dalam Alquran, seperti yang terdapat pada surah an-Nisa’ ayat 136, bahwa unsur keimanan (rukun iman) itu memiliki lima unsur, akan tetapi terkait (takdir) ini, Allah Swt tidak menyebutkan secara langsung yang berupa teks agar orang-orang yang beriman tersebut harus mengimani takdir ini. Sebagaimana firmannya :
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’ 4: 136)
Ayat di atas, jelas memberikan pemahaman bagi umat Islam, bahwa Allah Swt, pada ayat tersebut tidak mengatakan terkait (takdir) ini sebagai pondasi iman. Kendatipun demikian, kita harus merujuk kepada hadits Nabi Muhammad Saw, ketika seseorang yang berpakaian rapi serba putih yang dalam hal ini diyakini sebagai Malaikat Jibril a.s datang menjumpai Rasul, lalu beliau (Jibril a.s) menanyakan tentang iman kepada Nabi, lantas Nabi menjawabnya : “bahwa engkau harus beriman kepada Allah Swt, kepada Malaikat-malikatnya, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, lalu beriman kepada hari kemudian (kiamat), dan engkau juga harus beriman kepada takdir (baik dan buruk)”.
Terkait hal ini (takdir), beberapa ahli tafsir maupun tokoh filosof, juga para cendikiawan, ustad dan para kiyai sekalipun, kebanyakan dari mereka memahami takdir ini dari segi tinjauan Alquran yang mempunyai arti “ukuran, ketetapan, ketentuan (kadar), batas”. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang penafsiran maknanya. Sehingga yang timbul dikalangan masyarakat umum adalah perpecahan pendapat atas penerimaan takdir yang ditimpakan Allah Swt, kepada manusia itu sendiri.
Mengenai pengertian dari takdir itu sendiri, seperti pendapat beberapa ahli di atas, dapat kita kutip firman-firman Allah dalam Alquran al-karim, yang mengartikan Takdir (Qadr) itu adalah ukuran, sebagai berikut: dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.(QS. Al-Hijr 15:21)
Selanjutnya, pengertian Takdir (Qadr) itu adalah ketetapan, firman Allah Swt: dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. (QS. Yaasin 36:38)
Dan juga firman Allah Swt yang mengatakan bahwa Takdir (Qadr) itu sebagai ketentuan, yaitu:
... Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Thalaq 65:3
Arti yang terakhir dari takdir (Qadr) adalah batasan yang terdapat pada firman Allah Swt, yaitu : dan Allah menetapkan batasan malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu,(QS. Al-Muzzammil 73: 20)
Semua ayat-ayat di atas, telah memberikan pemahaman yang detail bagi manusia terkhusus bagi umat Islam sendiri. Banyak sekali ayat Alquran yang mengulang-ulang dan membahas hakikat takdir ini. Akan tetapi, dari sekian ayat di atas, seyogiyanya harus direnungkan dan dicermati bahwa Allah Swt, Tuhan semesta alam memberikan takdir ini dengan ketentuan-ketentuan maupun kadar-kadar atas keterbatasan makhluknya.
Lihat saja, alangkah kuasanya Allah Swt yang telah memberikan ketetapannya kepada segala sesuatu dari yang terbesar hingga yang terkecil. Baik makhluk yang di langit juga dengan makhluk yang melata di persada bumi ini. Pohon kelapa yang tinggi saja berlaku ketetapan (takdir) Tuhan. Rerumputan hijau yang berada di hutan belantara juga terdapat takdir dari Tuhan. Contoh kecilnya saja, bagaimana ia bisa tumbuh?, lalu ia subur menghasilkan warna yang indah bila dipandang dari kejauhan, lalu bagaimana juga ia bisa mengering? dan bagaimana kadar kekeringannya? Itulah takdir atau bisa disebut dengan sunnatullah yang menurut para ahli rasionalis sebagai hukum-hukum (Tuhan yang berlaku) di bumi ini.
Akan tetapi perlu diingat, bahwa hukum-hukum Tuhan yang berlaku tersebut memiliki keberagaman bentuk dan sifat yang bermacam-macam. Seperti halnya dengan manusia yang memiliki takdir sesuai dengan takaran atau ukuran yang ditetapkan dan diberikan Allah atasnya.
Makhluk ini (manusia) tidak bisa terbang bagaikan capung ataupun burung. Tidak bisa hidup di dasar lautan persis dengan kehidupan makhluk yang dilaut contohnya ikan. Dan juga tidak memiliki habitat di langit, itu karena memang takdirnya sudah ditentukan hidup di permukaan bumi, sehingga apa pun yang dikerjakannya adalah merupakan ketetapan yang tidak bisa terlepas dari lingkungan takdir itu sendiri. Itulah yang dimaksudkan penulis, bahwa ukuran atau takdir setiap makhluk itu sudah ditentukan oleh-Nya.
Mengingat takdir yang ditetapkan Allah tersebut memiliki ragam bentuk dan jenis yang banyak, namun kita (manusia) diberikan oleh-Nya kemampuan untuk memilah dan memilih akan takdir tersebut. Tidak seperti matahari, bulan dan juga bintang yang telah ditetapkan selalu berputar pada porosnya masing-masing. Akan tetapi makhluk yang sebagus-bagus ciptaan ini berbeda dengan makhluk lainnya.
Manusia dapat memilih takdir (ukuran-ukuran, batasan) mana yang harus ditempuh dan dijalankannya. Sebagian contoh kecilnya adalah kisah Amiril mukminin, saidina Umar ibnu al-Khattab r.a. Beliau akan melakukan kunjungan ke satu daerah Umat Islam. Namun, karena sang amiril mukminin mendapat kabar, bahwa di daerah tersebut sedang terserang wabah penyakit akhirnya beliau membatalkan rencana keberangkatannya untuk kunjungan tersebut.
Karena pembatalan kunjungan beliau tersebut, para sahabat lainnya bertanya kepada saidina Umar ibnu al-Khattab, “apakah anda menghindar dari takdir Tuhan ya Amiril Mukminin?” Lalu Umar ibnu al-Khattab menjawab, “Saya menghindar dari takdir yang satu ke takdir yang lain”.
Berjangkitnya satu penyakit akibat yang ditimbulkan wabah tersebut merupakan takdir dari Tuhan. Amiril Mukminin menghindar serangan wabah tersebut juga merupakan takdir dari Tuhan. Jika seandainya beliau jadi melakukan kunjungan tersebut, berarti juga sudah ditakdirkan diserang wabah yang menyebabkan beliau dihinggapi satu penyakit.
Adalah benar pendapat yang mengatakan bahwa setiap makhluk tidak dapat melepaskan diri dari perkara takdir. Namun hemat penulis, bahwa nikmat dan bencana yang Allah Swt berikan merupakan takdir yang seharusnya kita berlaku adil atas kedua tersebut (nikmat dan musibah). Dari semua itu, nampak dengan jelas bahwa ukurannya telah ditetapkan oleh Allah, Tuhan semesta alam.
Jika demikian, dapat disimpulkan bahwa takdir itu ada yang baik dan juga ada yang buruk. Tetapi sadarilah, bahwa manusia diberi takdir untuk memilih bukan hanya diberi takdir untuk menjalani saja. Pada akhirnya, jangan hanya ketika sedang musibah ataupun petaka terjadi, baru mengucapkan bahwa “itu adalah takdir”. Tetapi, seharusnya juga ketika dalam kebahagian, atau dalam kesuksesan mesti mengucapkan hal yang sama.
Ingat, segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup. Allah Swt, tidak akan menimpakan satu musibah atau petaka kepada setiap makhluk-Nya di luar kemampuan makhluk tersebut menerimanya. Hanya saja setiap makhluk akan terdapat perbedaan atas musibah yang menimpanya. Antara individu manusia saja kelihatan sisi perbedaan tersebut apalagi dengan makhluk yang di langit dan di bumi lainnya. Wallahu ‘alam...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar