Hijrah Menuju Ridha-Nya
Puji
Syukur hanya kepunyaan Ilahi Rabbi, baginya kerajaan di langit dan di bumi,
Dia-lah yang maha penuntun, sekaligus maha pengatur atas segala hal. Inilah
yang dijanjikan Allah Swt, inilah yang di atur dalam penuntunannya. Dimulai
dari kekosongan dan kebingungan atas perjalanan yang akan dilaksanakan, berjuta
harapan untuk mendapatkan kebaikan dimasa akan datang, berjuang dengan langkah
yang penuh kesadaran.
Sejarah
telah dimulai, kisah telah dijalankan, kaki sudah dilangkahkan, awal hijrah
kini telah ditunaikan. 1 November 2016 diiringi dengan ayunan tangan, niat
bulat ditekadkan untuk melaksanakan perjuangan meraih kecintaan Allah Swt, di
negeri orang, kampung nun jauh dari tatapan seorang ibu yang tersayang.
Berangkat dengan satu cita-cita yang penuh dengan cinta, dipadu dengan semangat
untuk mengawali sebuah karier dan meraih sejuta harapan dan impian yang pernah
diukir dalam sebuah catatan pada masa kecil silam.
Pengharapan
tiada pernah habis, untaian kata yang bernadakan lembut menjadi sebuah ingatan
yang telah dituturkan bunda tercinta. Aliran air mata yang menjadi pengantar
sebuah cita-cita yang mulia, dicampuri dengan kesedihan hati, rasa iba-pun
menyertai, ditambah satu kecupan yang lama dengan hati yang penuh keikhlasan,
hati seorang ibu merelakan, dan merestui langkah anaknya dalam memenuhi
panggilan untuk berhijrah.
Nasehat-nasehat
bunda disampaikan, terkadang dengan nada yang tersendat-sendat, dicampuri
dengan tarikan nafas yang panjang, pelukan yang hangat, dibumbui dengan tatapan
yang sendu, dan diringgi dengan suara yang sedikit berbisik, seraya berkata:
“u
pabuat ma ho amang manjalaki hangoluan mu”
(Aku
menuntun keberangkatan mu Anak-ku, demi mencari kehidupanmu)
“marangkat
ma ho amang dohot ridho ni Tuhan mu”
(Berangkatlah
Wahai Anak ku dengan Ridha Tuhan mu)
“Jago
kasehatan amang, jalaki ma cita-cita dohot angan-angan mu”
(Jagalah
Anak ku kesehatan mu, raihlah cita-cita dan impian mu)
“Na
utamona ulang tadingkon amang sumbayang mu”
(yang
terpenting anak-ku, Jangan pernah meninggalkan Shalat mu)
“Pador
ma amang mangalehen barita mu”
(Sering-seringlah
anak ku mengasih kabar berita mu)
“Anso
ate-ate ni inang mon inda marsak mamikirkon mu”[1]
(Agar
hati Ibumu ini tidak terlalu merindukan mu)
Mengingat
hal itu semua, membuat jiwa teringat dengan satu hal yang
dipesankan/disampaikan oleh seorang Ustad/Buya kepada penulis sejak masih
mengenyam pendidikan di Pesantren Ma’had Darul Hadits[2],
yaitu Ustad Ali Asro Nasution, beliau berkata : Anak ku... jika engkau
berani melangkahkan kakimu satu jengkal demi meraih cinta-Nya Allah, Maka
berbahagialah dirimu. Sebab, Allah akan menyambutmu dengan kasih sayang-Nya
yang tidak ada bandingannya dengan dunia sekalipun dan isinya.
Inilah
yang menyebabkan keyakinan hati semakin tumbuh dan berakar untuk mengejar dan
melaksanakan cita-cita. Sama seperti halnya orang yang sedang berproses menuju kebaikan
yang besar, bisa dikatakan bahwa keburukan, kemungkaran, kebathilan sebelumnya
sudah banyak dilakukan oleh anggota jasmani. Untuk itulah, hati ini berkata
dengan bisikan yang penuh makna, “jika pikiran kita baik dan selalu posotif,
maka produk yang dikeluarkan juga akan menuju kebaikan pula. Sebaliknya, jika
pikiran kita buruk dan selalu negatif, maka produk yang hasilkannya juga akan
menuju kepada keburukan pula”.
Ada
orang yang selalu melihat segala sesuatu itu dari sisi negatif, ada orang yang berhijrah
malah dikatakan pencitraan, ada orang yang berusaha menuju kesuksesan justru
dikatakan sok sibuk, ada orang yang suka mengingatkan sesama pada kebaikan
tetapi malah dikatakan sok suci.
Penulis
selalu heran kepada orang yang mempunyai pikiran semacam itu. Justru kalau
memang demikian, bisa dikatakan bahwa jika setiap kelakuan orang yang ada di
sekitarnya dianggap salah, bisa jadi ada yang salah dengan isi kepala orang
tersebut. Kenapa tidak?
Tidak
mungkin seseorang bisa mendapatkan kehidupan yang positif jika yang besangkutan
memiliki pemikiran yang negatif. Bayangkan saja, bagaimana bisa seseorang
sukses kalau disetiap kali ia “gagal” malah Suudzan terhadap Tuhannya? Dari
ucapan dia mengatakan bahwa Tuhan tidak adil. Sampai dia berkata bahwa hidupnya
sudah sia-sia. Padahal telah Allah jelaskan dalam kalam mulia, Alquran
al-Karim, yaitu:
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) (Qs. Al-Qiyamah,75:36)
Tidak
ada sesuatu yang diciptakan di muka bumi ini karena kesia-sia-an, yang paling
jorok adalah sejenis kotoran manusia. Tapi, apakah kita pernah mengira bahwa
kotoran tersebut tercipta hanya dengan sia-sia? Padahal kotoran itu adalah
sisa-sisa makanan yang ada dalam tubuh kita. Jika seandainya tidak ada kotoran
tersebut, maka sakitlah kita.
Adakah
kita pernah menyadari untuk berhenti agar tidak selalu berpikiran semacam
pendapat bodoh seperti di atas? Adakah kita memikirkan untuk menjadi yang lebih
baik? Adakah kita pernah menyimak kembali sejarah kehidupan para sahabat Rasul?
Mereka (para sahabat) selalu mengisi waktu (baik siang maupun malamnya) dengan
Alquran. Mereka berlomba-lomba meraih kasih sayang Allah Swt, sampai hati
mereka terpatri dengan penuh kecintaan terhadap firman-firmanya (Alquran
al-Karim).
Sementara
bagaimana dengan kita? Mulai terbit mentari memancarkan cahayanya dipagi hari
hingga dapat siangnya, kita hanya disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang
bermacam-macam, lalu sampai pada malamnya berlalu dengan begitu saja. Siang dan
malam terlewatkan tanpa disertai dengan lantunan ayat-ayat Alquran kalam mulia.
Kita terjaga dimalam hari yang tiada nilainya sama sekali. Malam pun berlalu
dengan canda tawa, perdebatan sengit yang tidak bermanfaat, yang ada lupa
kepada sang pencipta. Siang malam yang tidak membawa nilai manfaat baik untuk
kehidupan di dunia begitu juga untuk kehidupan di akhirat kelak.
Dari
lembaran inilah, penulis memberikan pesan ataupun mengajak segenab pembaca budiman
untuk mengalihkan pemahaman serta pemikiran agar sejenak dan sedikit waktu
mulai satu menit, tiga puluh menit bahkan berjam-jam untuk menyadari atas
tindakan, kelalaian dan kecerobohan maupun kebodohan yang telah dilalui
beberapa waktu yang silam. Kita sadar dan mulailah mengalami penyesalan yang
dalam, bahwa kita telah jauh dari kasih sayang Allah Swt. Siang dilumuri
noda-noda hitam di hati. Malam-malam kita berlalu dengan cucuran dosa (besar
maupun kecil) yang setiap kalinya dilaporkan Malaikat kepada Allah sang
pengatur. Malam yang tanpa lantunan ayat Alquran, malam pergi tanpa tangisan
dikala bersimpuh sujud menghadap Allah Swt. Ketahuilah, bahwa dua raka’at di sepertiga
malam jauh lebih bermanfaat dan bermakna dari pada langit dan bumi sekaligus
isi keduanya.
Malam yang penuh dengan linangan air mata,
getaran qalbu dikarenakan komunikasi
langsung dengan Dzat yang maha agung. Kalimat-kalimat mulia diucapkan untuk
memuja dan memuji keagungan-Nya, hingga air mata bercucuran lalu lisan berkata
dan bermunajat agar kiranya noda dan dosa-dosa yang telah dilakukan dapat
diampuni sang maha pengampun.
Cucuran
air mata yang terasa asin, tercicipi oleh mulut yang sering melakukan dan
menebar kemaksiatan, dosa mengatai orang, dosa memitnah orang, dosa mengumbar
janji-janji palsu. Pada akhirnya mulut bertanya dan berkata kepada gelapnya
malam, apakah di tengah kegelapan terdapat rahasia yang penuh dengan berbagai
peristiwa? Lalu malam-pun menyahut dan menjawab dengan suara lembut, “aku tidak
pernah bertemu dengan suatu peristiwa, sebagaimana peristiwa yang di alami para
pencari cinta-Nya di keheningan malam”. Alangkah indahnya hidup ini bila selalu
mendapatkan ampunan dari Dzat yang maha pengampun.
Jika
demikian, bila kita terus melakukan hal yang sia-sia, maka kita akan terus
mendapat kerugian. Terbuangnya waktu secara sia-sia, sama halnya dengan
membuang umur kita dengan sia-sia pula. Tetapi Allah Swt, itu Dzat yang maha
pemurah, masih ada peluang dan jalan untuk menghindari kerugian, jalan masih
terbuka dengan lebar untuk menghilangkan kerugian, dengan cara kembali kepada
jalan menujunya, seperti firman Allah Swt:
“Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
(Qs. Al-Ashr, 103:1-3)
Firman Allah Swt di atas, sudah
sangat jelas, bahwa orang yang terhindar dari kerugian di dunia menuju akhirat kelak
ada empat golongan, yaitu:
1.
Orang yang beriman
Beriman bukanlah sekedar berucap di bibir saja. Banyak sekali
tanda-tanda orang yang beriman, salah satunya adalah orang yang hidupnya selalu
mengikuti petunjuk dari Alquran (QS. Al-baqarah 2:2-3), kehidupannya senantiasa
merasa diawasi Allah Swt. Langkahnya selalu di iringi dengan sifat keadilan
(QS. An-Nisa’ 4: 135). Dan melaksanakan semua kewajiban dan ketaatan penuh
kepada-Nya yang disertai dengan ketulusan.
2.
Mengerjakan amal saleh
Amal dalam konteks ini adalah kalimat umum. Tetapi Allah
membatasinya dengan kalimat “saleh”. Amal saleh itu mencakup amalan dzahir yang
dikerjakan oleh anggota badan maupun amalan batin, baik amalan tersebut
bersifat fardhu (wajib) maupun amalan yang bersifat mustahab (anjuran). Itu
berarti, dalam pelaksanaan amal saleh tersebut haruslah dilakukan dengan nilai
keikhlasan (ketulusan hati) dan menghindari perbuatan yang mengharapkan pujian
orang lain. Menghindari s ifat riya’ dan juga sifat sum’ah (memberitahukan
kebaikan yang dilakukan kepada orang lain).
Nabi Muhammad Saw menjelaskan tentang hal demikian di atas,
sebagaiman sabda beliau:
مَنْ
رَاءَى رَاءَى اللَّهُ وَمَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ
Barang siapa yang ingin dilihat (kebaikannya) maka Allah Swt akan
memperlihatkannya, dan barang siapa ingin didengar (kebaikannya), maka Allah Swt
akan memperdengarkannya.
(HR. Bukhari Muslim)
Untuk itu, dengan kerendahan hati, kesadaran hati, penulis mengajak
kita semua, agar sama-sama untuk melakukan segala perbuatan (amal) dengan
disertai ketulusan hati dan mengharapkan ridha Allah Swt semata.
3.
Nasehat menasehati dalam kebaikan
Dalam agama Islam, mengajak dan saling nasehat menasehati menuju
kepada kebaikan itu adalah hal yang sangat disunnahkan Rasul. Nasehat merupakan
perkara yang agung, dan juga merupakan jalan yang sering dilaksanakan oleh para
Rasul terdahulu ketika memperingati umatnya, sebagaimana Nabi Nuh a.s,
memberikan peringatan kepada kaumnya yang telah berada dalam kesesatan, seperti
yang terdapat dalam Alquran yaitu :
"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat
Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu”...
(QS. Al-A’raaf 7:62)
dan
juga Nabi Hud a.s yang berkata kepada kaumnya, yaitu :
Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah
pemberi nasehat yang terpercaya bagimu"
(QS. Al-A’raaf 7:68)
Oleh sebab itu, Nabi
Muhammad Saw sebagai Nabi yang mulia dan yang tercinta, menyatakan dalam hadits
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ “Agama Itu adalah nasehat”. Namun pokusnya adalah memberi nasehat kepada kebaikan yang menuntun
seseorang dikala lupa melanda hidupnya, mengajaknya kepada kedamaian pada saat
emosi menguasainya, memberikan cahaya baginya pada saat dia dalam gelap gulita.
4.
Nasehat menasehati dalam kesabaran
Tidaklah cukup
saling menasehati untuk kebenaran tanpa berpesan ataupun manasehati dalam
perkara kesabaran. Sebab, hidup ini bukanlah jalan yang datar. Sering kali kaki
terantuk duri, mata kemasukan debu, perut dalam kelaparan dan lain sebagainya.
Kesusahan kadang-kadang sama banyaknya dengan kemudahan, cobaan silih berganti menerpa
arusnya perjalanan hidup. Tentu banyak manusia yang akan rugi karena tidak
tahan menempuh kesukaran dan halangan hidup. Rugi sebab mundur, rugi sebab
tidak berani maju, berhenti ditengah perjalanan. Padahal berhenti-pun artinya
sama dengan mundur, sedang umur terus berlanjut dan jatah hidup semakin
berkurang.
Alquran, kalam
Allah, telah menerangkan bahwa kesabaran hanya dapat dicapai oleh orang-orang
yang memiliki sifat-sifat baik lagi kuat jiwanya, sebagaimana firman Allah “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan
melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan
kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar” (QS. Fushshilat 41:35). Itu berarti manusia yang memiliki jiwa lemah dan
tidak memiliki sifat-sifat yang baik lainnya akan mendapat kerugian.
Ibnu al-Qayyim, di dalam
kitabnya “Miftahud Daris Sa’adah” menerangkan bahwa “kalau ke empat
martabat tersebut di atas telah dicapai oleh manusia, maka hasilnya akan menuju kepada kesempurnaan hidup” dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa keselamatan hidup tidak terlepas dari ke empat
martabat tersebut, namun keselamatan itu bukanlah untuk diri sendiri saja,
melainkan disuruh juga untuk menyampaikannya pada sesama, menyeru kepada agama,
beriman kepada Dzat yang maha menghidupkan, mengajak kepada berbuat amalan
saleh, menasehati dalam kebenaran, serta menasehati agar teguh hati dalam
kesebaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar