Senin, 12 Desember 2016

Hijrah menuju Ridha-Nya

hijrah menuju ridha-Nya

Hijrah Menuju Ridha-Nya




Puji Syukur hanya kepunyaan Ilahi Rabbi, baginya kerajaan di langit dan di bumi, Dia-lah yang maha penuntun, sekaligus maha pengatur atas segala hal. Inilah yang dijanjikan Allah Swt, inilah yang di atur dalam penuntunannya. Dimulai dari kekosongan dan kebingungan atas perjalanan yang akan dilaksanakan, berjuta harapan untuk mendapatkan kebaikan dimasa akan datang, berjuang dengan langkah yang penuh kesadaran.

Sejarah telah dimulai, kisah telah dijalankan, kaki sudah dilangkahkan, awal hijrah kini telah ditunaikan. 1 November 2016 diiringi dengan ayunan tangan, niat bulat ditekadkan untuk melaksanakan perjuangan meraih kecintaan Allah Swt, di negeri orang, kampung nun jauh dari tatapan seorang ibu yang tersayang. Berangkat dengan satu cita-cita yang penuh dengan cinta, dipadu dengan semangat untuk mengawali sebuah karier dan meraih sejuta harapan dan impian yang pernah diukir dalam sebuah catatan pada masa kecil silam.

Pengharapan tiada pernah habis, untaian kata yang bernadakan lembut menjadi sebuah ingatan yang telah dituturkan bunda tercinta. Aliran air mata yang menjadi pengantar sebuah cita-cita yang mulia, dicampuri dengan kesedihan hati, rasa iba-pun menyertai, ditambah satu kecupan yang lama dengan hati yang penuh keikhlasan, hati seorang ibu merelakan, dan merestui langkah anaknya dalam memenuhi panggilan untuk berhijrah.

Nasehat-nasehat bunda disampaikan, terkadang dengan nada yang tersendat-sendat, dicampuri dengan tarikan nafas yang panjang, pelukan yang hangat, dibumbui dengan tatapan yang sendu, dan diringgi dengan suara yang sedikit berbisik, seraya berkata:
“u pabuat ma ho amang manjalaki hangoluan mu”
(Aku menuntun keberangkatan mu Anak-ku, demi mencari kehidupanmu)
“marangkat ma ho amang dohot ridho ni Tuhan mu”
(Berangkatlah Wahai Anak ku dengan Ridha Tuhan mu)
“Jago kasehatan amang, jalaki ma cita-cita dohot angan-angan mu”
(Jagalah Anak ku kesehatan mu, raihlah cita-cita dan impian mu)
“Na utamona ulang tadingkon amang sumbayang mu”
(yang terpenting anak-ku, Jangan pernah meninggalkan Shalat mu)
“Pador ma amang mangalehen barita mu”
(Sering-seringlah anak ku mengasih kabar berita mu)
“Anso ate-ate ni inang mon inda marsak mamikirkon mu”[1]
(Agar hati Ibumu ini tidak terlalu merindukan mu)

Mengingat hal itu semua, membuat jiwa teringat dengan satu hal yang dipesankan/disampaikan oleh seorang Ustad/Buya kepada penulis sejak masih mengenyam pendidikan di Pesantren Ma’had Darul Hadits[2], yaitu Ustad Ali Asro Nasution, beliau berkata : Anak ku... jika engkau berani melangkahkan kakimu satu jengkal demi meraih cinta-Nya Allah, Maka berbahagialah dirimu. Sebab, Allah akan menyambutmu dengan kasih sayang-Nya yang tidak ada bandingannya dengan dunia sekalipun dan isinya.

Inilah yang menyebabkan keyakinan hati semakin tumbuh dan berakar untuk mengejar dan melaksanakan cita-cita. Sama seperti halnya orang yang sedang berproses menuju kebaikan yang besar, bisa dikatakan bahwa keburukan, kemungkaran, kebathilan sebelumnya sudah banyak dilakukan oleh anggota jasmani. Untuk itulah, hati ini berkata dengan bisikan yang penuh makna, “jika pikiran kita baik dan selalu posotif, maka produk yang dikeluarkan juga akan menuju kebaikan pula. Sebaliknya, jika pikiran kita buruk dan selalu negatif, maka produk yang hasilkannya juga akan menuju kepada keburukan pula”.

Ada orang yang selalu melihat segala sesuatu itu dari sisi negatif, ada orang yang berhijrah malah dikatakan pencitraan, ada orang yang berusaha menuju kesuksesan justru dikatakan sok sibuk, ada orang yang suka mengingatkan sesama pada kebaikan tetapi malah dikatakan sok suci.

Penulis selalu heran kepada orang yang mempunyai pikiran semacam itu. Justru kalau memang demikian, bisa dikatakan bahwa jika setiap kelakuan orang yang ada di sekitarnya dianggap salah, bisa jadi ada yang salah dengan isi kepala orang tersebut. Kenapa tidak?

Tidak mungkin seseorang bisa mendapatkan kehidupan yang positif jika yang besangkutan memiliki pemikiran yang negatif. Bayangkan saja, bagaimana bisa seseorang sukses kalau disetiap kali ia “gagal” malah Suudzan terhadap Tuhannya? Dari ucapan dia mengatakan bahwa Tuhan tidak adil. Sampai dia berkata bahwa hidupnya sudah sia-sia. Padahal telah Allah jelaskan dalam kalam mulia, Alquran al-Karim, yaitu:
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) (Qs. Al-Qiyamah,75:36)
           
Tidak ada sesuatu yang diciptakan di muka bumi ini karena kesia-sia-an, yang paling jorok adalah sejenis kotoran manusia. Tapi, apakah kita pernah mengira bahwa kotoran tersebut tercipta hanya dengan sia-sia? Padahal kotoran itu adalah sisa-sisa makanan yang ada dalam tubuh kita. Jika seandainya tidak ada kotoran tersebut, maka sakitlah kita.
Adakah kita pernah menyadari untuk berhenti agar tidak selalu berpikiran semacam pendapat bodoh seperti di atas? Adakah kita memikirkan untuk menjadi yang lebih baik? Adakah kita pernah menyimak kembali sejarah kehidupan para sahabat Rasul? Mereka (para sahabat) selalu mengisi waktu (baik siang maupun malamnya) dengan Alquran. Mereka berlomba-lomba meraih kasih sayang Allah Swt, sampai hati mereka terpatri dengan penuh kecintaan terhadap firman-firmanya (Alquran al-Karim).

Sementara bagaimana dengan kita? Mulai terbit mentari memancarkan cahayanya dipagi hari hingga dapat siangnya, kita hanya disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang bermacam-macam, lalu sampai pada malamnya berlalu dengan begitu saja. Siang dan malam terlewatkan tanpa disertai dengan lantunan ayat-ayat Alquran kalam mulia. Kita terjaga dimalam hari yang tiada nilainya sama sekali. Malam pun berlalu dengan canda tawa, perdebatan sengit yang tidak bermanfaat, yang ada lupa kepada sang pencipta. Siang malam yang tidak membawa nilai manfaat baik untuk kehidupan di dunia begitu juga untuk kehidupan di akhirat kelak.

Dari lembaran inilah, penulis memberikan pesan ataupun mengajak segenab pembaca budiman untuk mengalihkan pemahaman serta pemikiran agar sejenak dan sedikit waktu mulai satu menit, tiga puluh menit bahkan berjam-jam untuk menyadari atas tindakan, kelalaian dan kecerobohan maupun kebodohan yang telah dilalui beberapa waktu yang silam. Kita sadar dan mulailah mengalami penyesalan yang dalam, bahwa kita telah jauh dari kasih sayang Allah Swt. Siang dilumuri noda-noda hitam di hati. Malam-malam kita berlalu dengan cucuran dosa (besar maupun kecil) yang setiap kalinya dilaporkan Malaikat kepada Allah sang pengatur. Malam yang tanpa lantunan ayat Alquran, malam pergi tanpa tangisan dikala bersimpuh sujud menghadap Allah Swt.  Ketahuilah, bahwa dua raka’at di sepertiga malam jauh lebih bermanfaat dan bermakna dari pada langit dan bumi sekaligus isi keduanya.

 Malam yang penuh dengan linangan air mata, getaran qalbu  dikarenakan komunikasi langsung dengan Dzat yang maha agung. Kalimat-kalimat mulia diucapkan untuk memuja dan memuji keagungan-Nya, hingga air mata bercucuran lalu lisan berkata dan bermunajat agar kiranya noda dan dosa-dosa yang telah dilakukan dapat diampuni sang maha pengampun.

Cucuran air mata yang terasa asin, tercicipi oleh mulut yang sering melakukan dan menebar kemaksiatan, dosa mengatai orang, dosa memitnah orang, dosa mengumbar janji-janji palsu. Pada akhirnya mulut bertanya dan berkata kepada gelapnya malam, apakah di tengah kegelapan terdapat rahasia yang penuh dengan berbagai peristiwa? Lalu malam-pun menyahut dan menjawab dengan suara lembut, “aku tidak pernah bertemu dengan suatu peristiwa, sebagaimana peristiwa yang di alami para pencari cinta-Nya di keheningan malam”. Alangkah indahnya hidup ini bila selalu mendapatkan ampunan dari Dzat yang maha pengampun.

Jika demikian, bila kita terus melakukan hal yang sia-sia, maka kita akan terus mendapat kerugian. Terbuangnya waktu secara sia-sia, sama halnya dengan membuang umur kita dengan sia-sia pula. Tetapi Allah Swt, itu Dzat yang maha pemurah, masih ada peluang dan jalan untuk menghindari kerugian, jalan masih terbuka dengan lebar untuk menghilangkan kerugian, dengan cara kembali kepada jalan menujunya, seperti firman Allah Swt:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
(Qs. Al-Ashr, 103:1-3)

            Firman Allah Swt di atas, sudah sangat jelas, bahwa orang yang terhindar dari kerugian di dunia menuju akhirat kelak ada empat golongan, yaitu:

1.      Orang yang beriman
Beriman bukanlah sekedar berucap di bibir saja. Banyak sekali tanda-tanda orang yang beriman, salah satunya adalah orang yang hidupnya selalu mengikuti petunjuk dari Alquran (QS. Al-baqarah 2:2-3), kehidupannya senantiasa merasa diawasi Allah Swt. Langkahnya selalu di iringi dengan sifat keadilan (QS. An-Nisa’ 4: 135). Dan melaksanakan semua kewajiban dan ketaatan penuh kepada-Nya yang disertai dengan ketulusan.

2.      Mengerjakan amal saleh
Amal dalam konteks ini adalah kalimat umum. Tetapi Allah membatasinya dengan kalimat “saleh”. Amal saleh itu mencakup amalan dzahir yang dikerjakan oleh anggota badan maupun amalan batin, baik amalan tersebut bersifat fardhu (wajib) maupun amalan yang bersifat mustahab (anjuran). Itu berarti, dalam pelaksanaan amal saleh tersebut haruslah dilakukan dengan nilai keikhlasan (ketulusan hati) dan menghindari perbuatan yang mengharapkan pujian orang lain. Menghindari s ifat riya’ dan juga sifat sum’ah (memberitahukan kebaikan yang dilakukan kepada orang lain).
Nabi Muhammad Saw menjelaskan tentang hal demikian di atas, sebagaiman sabda beliau:
مَنْ رَاءَى رَاءَى اللَّهُ وَمَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ
Barang siapa yang ingin dilihat (kebaikannya) maka Allah Swt akan memperlihatkannya, dan barang siapa ingin didengar (kebaikannya), maka Allah Swt akan memperdengarkannya.
(HR. Bukhari Muslim)

Untuk itu, dengan kerendahan hati, kesadaran hati, penulis mengajak kita semua, agar sama-sama untuk melakukan segala perbuatan (amal) dengan disertai ketulusan hati dan mengharapkan ridha Allah Swt semata.

3.      Nasehat menasehati dalam kebaikan
Dalam agama Islam, mengajak dan saling nasehat menasehati menuju kepada kebaikan itu adalah hal yang sangat disunnahkan Rasul. Nasehat merupakan perkara yang agung, dan juga merupakan jalan yang sering dilaksanakan oleh para Rasul terdahulu ketika memperingati umatnya, sebagaimana Nabi Nuh a.s, memberikan peringatan kepada kaumnya yang telah berada dalam kesesatan, seperti yang terdapat dalam Alquran yaitu :
"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu”...
(QS. Al-A’raaf 7:62)

dan juga Nabi Hud a.s yang berkata kepada kaumnya, yaitu :
Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu"
(QS. Al-A’raaf 7:68)
                        Oleh sebab itu, Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi yang mulia dan yang tercinta, menyatakan dalam hadits الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ “Agama Itu adalah nasehat”. Namun pokusnya adalah memberi nasehat kepada kebaikan yang menuntun seseorang dikala lupa melanda hidupnya, mengajaknya kepada kedamaian pada saat emosi menguasainya, memberikan cahaya baginya pada saat dia dalam gelap gulita.

4.      Nasehat menasehati dalam kesabaran
Tidaklah cukup saling menasehati untuk kebenaran tanpa berpesan ataupun manasehati dalam perkara kesabaran. Sebab, hidup ini bukanlah jalan yang datar. Sering kali kaki terantuk duri, mata kemasukan debu, perut dalam kelaparan dan lain sebagainya. Kesusahan kadang-kadang sama banyaknya dengan kemudahan, cobaan silih berganti menerpa arusnya perjalanan hidup. Tentu banyak manusia yang akan rugi karena tidak tahan menempuh kesukaran dan halangan hidup. Rugi sebab mundur, rugi sebab tidak berani maju, berhenti ditengah perjalanan. Padahal berhenti-pun artinya sama dengan mundur, sedang umur terus berlanjut dan jatah hidup semakin berkurang.

Alquran, kalam Allah, telah menerangkan bahwa kesabaran hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang memiliki sifat-sifat baik lagi kuat jiwanya, sebagaimana firman Allah Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar” (QS. Fushshilat 41:35). Itu berarti manusia yang memiliki jiwa lemah dan tidak memiliki sifat-sifat yang baik lainnya akan mendapat kerugian.


Ibnu al-Qayyim, di dalam kitabnya “Miftahud Daris Sa’adah” menerangkan bahwa “kalau ke empat martabat tersebut di atas telah dicapai oleh manusia, maka hasilnya akan  menuju kepada kesempurnaan hidup” dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keselamatan hidup tidak terlepas dari ke empat martabat tersebut, namun keselamatan itu bukanlah untuk diri sendiri saja, melainkan disuruh juga untuk menyampaikannya pada sesama, menyeru kepada agama, beriman kepada Dzat yang maha menghidupkan, mengajak kepada berbuat amalan saleh, menasehati dalam kebenaran, serta menasehati agar teguh hati dalam kesebaran.

Semoga bermanfaat. 

















[1] Bahasa Mandailing
[2] Nama salah satu Pesantren di Desa Huta Baringin, Kecamatan Siabu Kab. Mandailing Natal Prov. Sumatera Utara Indonesia, Kode Pos 22976

Tidak ada komentar:

Kewajiban Menutup Aurat Dan Batasannya

Kewajiban Menutup Aurat Dan Batasannya السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بِسْمِ اللهِ الرَحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الحَمْدُ لِ...