Seperti yang penulis singgung pada tulisan sebelumnya. Bahwa antara
hukum-hukum Tuhan yang berlaku kepada makhluknya tersebut memiliki keberagaman
bentuk dan sifat yang bermacam-macam. Silih berganti tak pernah lepas dan tak
bisa menghindari dari yang namanya satu takdir. Apakah itu takdir kebahagian
atau juga takdir kesengsaraan.
Ibarat pepatah mengatakan, “dimana kaki berpijak di situ langit
ku junjung”, artinya adalah bahwa ada sifat baik dan buruk yang mesti kita
sadari dalam kehidupan ini. Boleh jadi sifat baik itu berpadu dengan kita, akan
tetapi sifat buruk ini jangan dipungkiri tentang adanya. Ketika ada sifat buruk
menimpa sesuatu yang tidak menyenangkan hidup, maka kita cepat-cepat
melontarkan penyebabnya adalah suatu takdir, dan sebaliknya bila sifat baik
diberikan Allah Swt pada hidup anda, malah yang terjadi adalah melupakan kata “takdir” dan terkadang melampaui batas setelah
Allah Swt memberikan kebaikan, kesuksesan tersebut.
Prinsip seperti yang di atas jelas sudah tidak sejalan lagi bila
dikaitkan dengan petunjuk Allah dalam Alquran sebagai berikut :
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ
مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ...
“apa saja nikmat
yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka
dari (kesalahan) dirimu sendiri...”
(QS. an-Nisa’, 4:79)
Kalimat حَسَنَةٍ di sini memiliki
arti “nikmat, kebaikan (kebajikan)” yang menggambarkan bahwa kebaikan
yang diterima setiap manusia, itu tidak luput dari pemberian Allah atau
kehendak-Nya. Pada ayat sebelumnya diceritakan tentang kisah kaum munafik ketika
mereka memperoleh kebaikan, lalu mereka mengatakan bahwa “ini dari sisi Allah”,
namun pada saat mereka ditimpa satu keburukan, mereka lancang mengatakan “ini
dari engkau (Muhammad)” (lihat QS.an-Nisa’ 4:78).
Penjelasan berikutnya dengan memakai redaksi kalimat سَيٍّئَةٍ yang mengatakan tentang bencana maupun
marabahaya yang diperoleh setiap manusia bukanlah atas kehendak orang lain
seperti perkataan kaum munafik di atas, akan tetapi itu merupakan hasil dari
perbuatan (kesalahan) mereka. Walhasil, takdir yang buruk tidak diperoleh oleh
setiap manusia kecuali dari hasil tindak-tanduk mereka sendiri.
Sebagai contoh, dalam dunia balapan yang sering ditonton di media
Televisi, sebut saja nama fens anda itu Valentino Rossi, beliau dijatuhi sanksi
dari Race Direction MotoGP Malaysia akibat melanggar kode etik balapan yang
mengakibatkan lawan balapnya Marc Marquez kecelakaan pada tikungan empat belas lap
ke VII di sirkuit balapan. Sehingga Rossi diberikan sanksi pinalti pengurangan
tiga poin. Bukan itu saja, akan tetapi pembalap dari Negeri Italia peraih juara
dunia kesepuluh ini harus start memulai balapan di Valencia Spanyol pada
tanggal 8 November 2015 dengan posisi belakang atau paling buncit.
Musibah atau sanksi yang diterima oleh Rossi adalah merupakan hasil
dari perbuatannya sendiri. Takdir ini menentukannya untuk memulai balapan di
Spanyol berada pada posisi terakhir. Jika seandainya Rossi tidak melanggar kode
etik balapan tersebut, barangkali sanksi itu tidak pernah dijatuhkan kepadanya.
Selanjutnya, sedikit kita mengkaji firman Allah yang menyatakan bahwa
suatu musibah yang terjadi kepada manusia itu sendiri adalah akibat dari ulah
tangan atau ulah perbuatan mereka sendiri, hal ini bisa dilihat dalam Alquran
sebagai berikut:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا
كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوا لَعَلَّهَمْ
يَرْجعُوْنَ .
“telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. ar-Ruum, 30:41)
Kalimat أَيْدِى النَّاسِ “tangan manusia”
di sini merupakan kata yang mewakili seluruh perbuatan manusia. Meskipun Allah
Swt, tidak mengatakan dengan akibat kaki, akibat mata, akibat mulut manusia dan
sebagainya, bukan berarti menutup kemungkinan bahwa malapetaka yang terjadi
pada manusia itu adalah akibat dari pengucapan mereka, hasil dari pendengaran
mereka.
Hal ini merupakan rahasia yang menyimpan
ribuan makna. Kendatipun demikian, harus diluruskan bahwa Allah Swt, memberikan
malapetaka itu dengan memiliki tujuan yang berharga, salah satunya seperti ayat
di atas “Allah Swt, menghendaki mereka kembali kepada jalan yang lurus”.
Dengan malapetaka yang terjadi pada seseorang, tentunya ada hal yang harus
dipahami secepatnya, yaitu mungkin dengan malapetaka tersebutlah dia (manusia)
akan sadar, akan beralih kejalan yang benar. Berarti Allah memberikan
malapetaka itu adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri.
Sebagai yang
terakhir, harus disadari bahwa segala sesuatu yang bersumber dari-Nya adalah
hal yang baik, Dia (Allah Swt), tidak akan memberikan ujian, cobaan, bahaya,
malapetaka itu kepada setiap jiwa kecuali dalam hal kebaikan. Allah Swt
menghendaki kebaikan-kebaikan kepada setiap jiwa, namun mereka (manusia) tidak
menyadarinya. Wallahu A’lam...
Semoga bermanfaat. Amin
Semoga bermanfaat. Amin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar