Selasa, 27 Desember 2016

Takdir dan Marabahaya



Takdir dan Marabahaya


Seperti yang penulis singgung pada tulisan sebelumnya. Bahwa antara hukum-hukum Tuhan yang berlaku kepada makhluknya tersebut memiliki keberagaman bentuk dan sifat yang bermacam-macam. Silih berganti tak pernah lepas dan tak bisa menghindari dari yang namanya satu takdir. Apakah itu takdir kebahagian atau juga takdir kesengsaraan.

Ibarat pepatah mengatakan, “dimana kaki berpijak di situ langit ku junjung”, artinya adalah bahwa ada sifat baik dan buruk yang mesti kita sadari dalam kehidupan ini. Boleh jadi sifat baik itu berpadu dengan kita, akan tetapi sifat buruk ini jangan dipungkiri tentang adanya. Ketika ada sifat buruk menimpa sesuatu yang tidak menyenangkan hidup, maka kita cepat-cepat melontarkan penyebabnya adalah suatu takdir, dan sebaliknya bila sifat baik diberikan Allah Swt pada hidup anda, malah yang terjadi adalah melupakan kata “takdir” dan terkadang melampaui batas setelah Allah Swt memberikan kebaikan, kesuksesan tersebut.

Prinsip seperti yang di atas jelas sudah tidak sejalan lagi bila dikaitkan dengan petunjuk Allah dalam Alquran sebagai berikut :
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ...
apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri...”
(QS. an-Nisa’, 4:79)


Kalimat حَسَنَةٍ  di sini memiliki arti “nikmat, kebaikan (kebajikan)” yang menggambarkan bahwa kebaikan yang diterima setiap manusia, itu tidak luput dari pemberian Allah atau kehendak-Nya. Pada ayat sebelumnya diceritakan tentang kisah kaum munafik ketika mereka memperoleh kebaikan, lalu mereka mengatakan bahwa “ini dari sisi Allah”, namun pada saat mereka ditimpa satu keburukan, mereka lancang mengatakan “ini dari engkau (Muhammad)” (lihat QS.an-Nisa’ 4:78)

Penjelasan berikutnya dengan memakai redaksi kalimat سَيٍّئَةٍ yang mengatakan tentang bencana maupun marabahaya yang diperoleh setiap manusia bukanlah atas kehendak orang lain seperti perkataan kaum munafik di atas, akan tetapi itu merupakan hasil dari perbuatan (kesalahan) mereka. Walhasil, takdir yang buruk tidak diperoleh oleh setiap manusia kecuali dari hasil tindak-tanduk mereka sendiri. 

Sebagai contoh, dalam dunia balapan yang sering ditonton di media Televisi, sebut saja nama fens anda itu Valentino Rossi, beliau dijatuhi sanksi dari Race Direction MotoGP Malaysia akibat melanggar kode etik balapan yang mengakibatkan lawan balapnya Marc Marquez kecelakaan pada tikungan empat belas lap ke VII di sirkuit balapan. Sehingga Rossi diberikan sanksi pinalti pengurangan tiga poin. Bukan itu saja, akan tetapi pembalap dari Negeri Italia peraih juara dunia kesepuluh ini harus start memulai balapan di Valencia Spanyol pada tanggal 8 November 2015 dengan posisi belakang atau paling buncit. 

Musibah atau sanksi yang diterima oleh Rossi adalah merupakan hasil dari perbuatannya sendiri. Takdir ini menentukannya untuk memulai balapan di Spanyol berada pada posisi terakhir. Jika seandainya Rossi tidak melanggar kode etik balapan tersebut, barangkali sanksi itu tidak pernah dijatuhkan kepadanya. 

Selanjutnya, sedikit kita mengkaji firman Allah yang menyatakan bahwa suatu musibah yang terjadi kepada manusia itu sendiri adalah akibat dari ulah tangan atau ulah perbuatan mereka sendiri, hal ini bisa dilihat dalam Alquran sebagai berikut:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوا لَعَلَّهَمْ يَرْجعُوْنَ .
“telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. ar-Ruum, 30:41)

Kalimat أَيْدِى النَّاسِtangan manusia” di sini merupakan kata yang mewakili seluruh perbuatan manusia. Meskipun Allah Swt, tidak mengatakan dengan akibat kaki, akibat mata, akibat mulut manusia dan sebagainya, bukan berarti menutup kemungkinan bahwa malapetaka yang terjadi pada manusia itu adalah akibat dari pengucapan mereka, hasil dari pendengaran mereka. 

Hal ini merupakan rahasia yang menyimpan ribuan makna. Kendatipun demikian, harus diluruskan bahwa Allah Swt, memberikan malapetaka itu dengan memiliki tujuan yang berharga, salah satunya seperti ayat di atas “Allah Swt, menghendaki mereka kembali kepada jalan yang lurus”. Dengan malapetaka yang terjadi pada seseorang, tentunya ada hal yang harus dipahami secepatnya, yaitu mungkin dengan malapetaka tersebutlah dia (manusia) akan sadar, akan beralih kejalan yang benar. Berarti Allah memberikan malapetaka itu adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri.

Sebagai yang terakhir, harus disadari bahwa segala sesuatu yang bersumber dari-Nya adalah hal yang baik, Dia (Allah Swt), tidak akan memberikan ujian, cobaan, bahaya, malapetaka itu kepada setiap jiwa kecuali dalam hal kebaikan. Allah Swt menghendaki kebaikan-kebaikan kepada setiap jiwa, namun mereka (manusia) tidak menyadarinya. Wallahu A’lam...

Semoga bermanfaat.  Amin 

Tidak ada komentar:

Kewajiban Menutup Aurat Dan Batasannya

Kewajiban Menutup Aurat Dan Batasannya السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بِسْمِ اللهِ الرَحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الحَمْدُ لِ...